Jumat, 13 Maret 2009

Jombang




Jombang? Apa yang kalian pikirkan tentangnya. Apakah kalian teringat tentang kasus pembunuhan yang tersanggkanya adalah Ryan atau hal lain. Karena sungguh ku tak tau apa-apa soal itu. Aku ngomong soal Jombang karena katanya kakak mo ngajak aq kesana ketemu ortunya (au). Jujur saja q takut..yah takut tak bisa beradaptasi dengan keluarga kakak karena penyakitku yang pemalu...............help ada yang tau?...........


Duuh, masih males nulis nih sejak tulisan terakhir itu. Masih cape soalnya. Tapi sayang juga nih blog kalo dianggurin. Baiklah kita lanjutkan tulisan ini.


Kami (aq n Kakak) pergi (baca: berangkat) dari rumah kira-kira jam (sambil melihat catatan) 13.23 wita dengan menggunakan jasa taksi Global (boleh disebut kan?). Seperti biasa saat mulai meninggalkan kotaku dan menuju daerah Loa Janan pasti kumulai ngantuk. Kakak sih duduk di depan menemani pak supir supaya baik jalannya (hus, tuh kan lagu Naik Delman). Dia ngajak ngobrol tu supir, yah nanya macam-macam dah. Dan sesekali menengok ke belakang, ngeliat aku sambil bertanya kenapa? Ku jawab dengan jujur : ngantuk. Dia bilang tidur aja. Tidur? Mana mungkin bisa, jalan menuju Balikpapan tu kan g rata. Naik n turun gunungnya aku bisa terima tapi bentar-bentar belok dengan tajam? Ya mana bisa buat orang tidur.


Singkat kata singkat cerita sampailah kami di bandara Sepinggan kira-kira pukul (liat catatan lagi ah) 16.00 wita. Sampai di sana Kakak bayar supir sekitar 200rb lebih, ku kurang tau. Kami nongkrong dulu di depan (kurang kerjaan kan?). Abis itu kalo ku tak salah ingat sih Kakak ambil uang di ATM, au' berapa banyak. Terus chek in deh, melewati pintu detektor tapi ku kan g tau kalo tas harus di taruh di mesin x-ray begitu juga hp di letakkan di samping pintu detektor maka hp yang ada dalam tas n tasnya ku tenteng aja hanya koperku yang ku lewatkan mesin x-ray. Ternyata mesin bunyi tapi ku g sadar kenapa bisa bunyi kebetulan pas aku lewat tu pintu rame-rame jadi cuek bebek aja ku lewat. Cari-cari nomor penerbanganku n nemu dan akhirnya chek in koperku ama oleh-oleh Amplang masuk ke bagasi pesawat sedangkan koper Kakak dibawa sendiri ama dia mungkin karena ada laptopnya kali ya? Chek in selesai, penerbangan masih lama (di jadwalkan berangkat pukul 18.00 wita), kami keluar (menuju ke arah ATM tapi g kesana) dan naik tangga. Kakak ngajak aku ke anjungan (itu ya namanya?) tiket masuknya 3ribu per orang kalo ku tak salah. Ternyata itu tempat untuk liat aktivitas di lapangan terbang. Di situ masih sepi baik pesawat maupun orang yang ada di anjungan. Di situ ada dua orang wanita yang menjual jajanan n minuman. Kakak nawarin untuk ambil minuman di pendinginnya, kuputuskan Buavita aja deh dan Kakak ngambil Teh Kotak. Tak seruput, lumayan mumpung lapar hehehe… Kakak juga memesan kopi dan kali ini dia memilih Kapucino (gaya!) tapi ini dari Indocafe kalo ku tak salah yang ada iklannya di tv entu. Dia nawarin aku juga tuk ambil jajan yah ku ambil aja kacangnya kan lumayan. Gak lama kemudian pengunjung atau pembeli lain datang seorang ibu-ibu dengan beberapa anak dan yang minta jajan 2 orang. Dia beli 2 buah minuman dingin dan salah satu anaknya minta Blaster dan anda tau berapa harga yang ibu itu harus bayar 42ribu. Gila mahal amir! Ternyata makanan n minuman di sini bisa berkali-kali lipat harganya. Bayangkan kalo di rumah Buavita itu ibu jual seharga 4rb (iya ibuku punya warung) dan di anjungan ini harganya naik 100% jadi 8rb. Subhanallah! Dan entahlah berapa jumlah yang harus Kakak keluarkan untuk biaya minuman-minuman plus kacang tadi


Mulai mendekati pukul 6 sore Kakak mengajakku tuk turun. Melewati pintu detektor itu lagi dan ku lakukan kesalahan yang sama tapi kali ini ditegur ma mba'nya. Abis tu ke PJP2A atau apalah namanya untuk masing-masing penumpang dikenakan biaya 30rb. Melewati detektor lagi dan masuk ke ruang tunggu. Setelah penumpang berada dalam kegelisahan yang cukup lama n tak pasti muncullah kepastian pesawat tertunda keberangkatannya ampe pukul 20.00 wita. Karena masih lama maka Kakak mengajakku makan di resto ruang tunggu ku milih bakso dan Kakak milih soto.


Akhirnya pukul 8 malam wita kami berangkat. Dan kurang lebih pukul 8.20 malam wib kami tiba di bandara Juanda dengan diiringi hujan yang deras. Setelah dapat koper dan pergi cari taksi, yang harus di bayar hampir 3000ribu maka pergilah kami ke kota tujuan Peterongan. Dan di perjalanan ku lihat becak (norak!), dan itu menyadarkan aku ternyata ku sekarang ada di pulau Jawa bukan Kalimantan. Walau lumayan jauh perjalanannya tapi tak membuatku mual soalnya jalanan di sini lurus-lurus saja tak seperti Balikpapan. Tibalah kami di tempat tujuan sekitar pukul 10.45 wib. Taksi berhenti di rumah om Temen, dan om Temen beserta bi’ Nah (kalo ku tak salah) menyambut kami.Lalu berjalanlah kami ke rumah ortu Kakak rumahnya berderet dengan rumah yang tadi tapi berada di nomor 1 dari deretan rumah om Temen. Ada ibu Kakak, bapaknya, dan adiknya. Lalu salaman dan cium tangan dimulai, ada keluarga Kakak yang lainnya. Setelah tradisi itu selesai dan air yang ibu rebus sudah mendidih, telur yang ibu goreng dah matang ku dah ganti baju maka kami berdua makan. Karena malam telah larut sudah waktunya tuk beristirahat maka ku pergi ke rumah om Temen, kenapa kesitu karena ku tidur di situ.

Comments :

1

indah banget seh kisah kamu... aq jadi inget ma cew aq nehh ,,, kapan aq bisa bawa dia sungkem ke ortu ku,,, doain yaaa

y@nita mengatakan...
on 

Posting Komentar

semua tanggapan yang kalian berikan akan dimoderasi terlebih dahulu ya...............................